You are currently viewing Berapa Lama Balik Modal Pasang PLTS? Simak Asumsi Dasarnya!

Berapa Lama Balik Modal Pasang PLTS? Simak Asumsi Dasarnya!

Sebelum memutuskan untuk memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), banyak orang bertanya: “Berapa lama modal saya kembali?” Nah, di sinilah konsep Payback Period atau periode balik modal.

Payback Period adalah waktu yang dibutuhkan agar investasi awal PLTS bisa tertutup oleh penghematan tagihan listrik setiap bulannya. Berikut adalah asumsi dasar untuk beberapa kapasitas.

Asumsi Dasar:

Tarif listrik PLN golongan industri (I-3): Rp 1.114,74 per kWh

Produksi energi tahunan PLTS diasumsikan 1.200 kWh per kWp (perkiraan umum produksi surya industri).

Penghematan tahunan = kapasitas (kWp) × 1.200 kWh × tarif (Rp/kWh).

Rumus Payback Period (kasar):

Tabel Perhitungan:

Kapasitas (kWp)Investasi (Rp)Estimasi Produksi/tahun (kWh)Penghematan/tahun (Rp)Payback Period (tahun)
11,02119.046.02613.224Rp 14.736.235 (13.224 × 1.114,74)± 8,1 tahun
12,76126.500.79715.312Rp 17.071.945± 7,4 tahun
15,08142.508.13518.096Rp 20.174.307± 7,1 tahun
20,88167.187.71925.056Rp 27.925.207± 6,0 tahun
30,16235.734.90736.192Rp 40.383.423± 5,8 tahun
36,54248.179.32443.848Rp 48.889.191± 5,1 tahun
40,06267.228.34748.072Rp 53.619.455± 5,0 tahun

Catatan:

  • Angka produksi 1.200 kWh/kWp per tahun hanya perkiraan konservatif; bisa berbeda tergantung kondisi lokasi, orientasi atap, sinar matahari, dll.
  • Payback period ini bersifat indikatif dan menggunakan asumsi sederhana uniform cash flow tanpa mempertimbangkan degradasi panel, biaya pemeliharaan, atau subsidi/incentive.

Ringkasan Hasil:

  • Skala investasi lebih besar (misalnya 30–40 kWp) cenderung memiliki PP lebih cepat (sekitar 5–6 tahun).
  • Kapasitas kecil (10–15 kWp) membutuhkan waktu lebih lama (~7–8 tahun).
  1. Penghematan (Rp/tahun) dihitung dari energi PLTS yang dipakai sendiri × tarif energi (kWh) PLN.
    • Di hitungan saya, saya pakai tarif energi golongan industri I-3 = Rp 1.114,74/kWh (periode Jul–Sep 2025). Angka ini tercantum dalam rilis media dan sejalan dengan laman PLN soal penetapan/penyesuaian tarif per triwulan. Penghematan = kWh PLTS tahunan × Rp 1.114,74. Sumber: https://www.metrotvnews.com+1PT PLN (Persero)+1
    • Catatan penting: perhitungan hanya meng-offset komponen energi (kWh). Beban/demand kVA, biaya reaktif (kVArh) atau penalti faktor daya tidak otomatis turun kecuali strategi operasinya memang menurunkan puncak beban/faktor daya. (Struktur tarif & Q&A PLN menjelaskan aspek penyesuaian/komponen biaya ini.) Sumber: PT PLN (Persero)+1Scribd
  2. Estimasi produksi (kWh/tahun) berbasis “specific yield” (kWh per kWp per tahun) lokasi.
    • Sebagai pendekatan cepat saya pakai 1.200 kWh/kWp/tahun (konservatif untuk atap industri Indonesia).
    • Data peta sumber daya surya yang lebih spesifik—misalnya Global Solar Atlas—menunjukkan PVOUT Surabaya ~1.560 kWh/kWp/tahun, dan umumnya Jawa ~1.400–1.600 kWh/kWp/tahun, tergantung tilt/orientasi & shading. Jadi produksi tahunan = kapasitas (kWp) × specific yield (kWh/kWp/tahun). Sumber: globalsolaratlas.info+2globalsolaratlas.info+2
    • Literatur teknis Indonesia juga menegaskan potensi GHI harian tinggi (±4,8 kWh/m²/hari), yang konsisten dengan yield tersebut; orientasi/kemiringan modul menggeser hasilnya. Sumber: MDPIResearchGate
  3. Implikasi ke Payback
  • Jika kita ganti asumsi produksi dari 1.200 → 1.560 kWh/kWp/tahun (contoh Surabaya, atap optimal), penghematan naik ~30% dan PP menjadi lebih singkat.
  • PP yang kemarin saya berikan mengasumsikan: 100% self-consumption (tanpa ekspor/net-metering), tidak memasukkan O&M/degradasi, dan tidak menghitung beban kVA/penalti PF.

Tinggalkan Balasan